Oleh : Syahril Endy
ONLINEKITE.CO.ID, LAHAT – Perum Bulog genap berusia 59 tahun pada 10 Mei 2026. Mengusung tema “Mengawal Pangan, Menjaga Masa Depan”, Bulog menegaskan komitmennya sebagai instrumen utama negara dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis iklim, gejolak harga global, dan disrupsi rantai pasok.
Di Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan, komitmen itu diwujudkan Perum Bulog Cabang Lahat melalui tiga mandat utama yaitu penyerapan hasil petani, stabilisasi harga konsumen, dan penyaluran bantuan pangan pemerintah.
Seperti yang diungkapkan Kepala Perum Bulog Cabang Lahat, Julkhaidir Romadhon. Ia menyatakan bahwa usia 59 tahun merupakan bukti konsistensi Bulog menjalankan penugasan pemerintah sejak didirikan melalui Keppres Nomor 11 Tahun 1967.
“Bulog lahir saat Indonesia rawan pangan. Hari ini, 59 tahun kemudian, tugas kami tetap sama, memastikan pangan tersedia, terjangkau, dan aman untuk 280 juta rakyat. Di Lahat, kami terjemahkan dengan mengawal gabah petani, mengawal harga beras di pasar, dan mengawal distribusi bantuan agar tepat sasaran. Itulah makna mengawal pangan, menjaga masa depan,” ujar Kepala Perum Bulog Cabang Lahat, Julkhaidir Romadhon saat ditemui, Senin (11/5/2026).
Kepala Perum Bulog Cabang Lahat ini juga mengatakan, sejarah Bulog tak bisa dilepaskan dari luka lama bangsa ini. Didirikan pada 10 Mei 1967 lewat Keppres No. 11 Tahun 1967, Bulog lahir dari rahim krisis. Tahun 1960-an, Indonesia dilanda inflasi pangan akut.
Yang menyebabkan harga beras melambung, rakyat antre. Presiden Soeharto kemudian membentuk Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai “lembaga tempur” urusan perut rakyat.
“Mengawal pangan itu dimulai dari sawah. Kalau petani rugi, tahun depan dia tak tanam. Kalau tak tanam, stok nasional jebol,” katanya lagi.
Sejarah 59 Tahun: Dari Stabilisator Harga ke Penjaga Lumbung
Secara historis, Bulog dibentuk sebagai respons atas instabilitas pangan tahun 1960-an. Inflasi pangan yang mencapai dua digit, antrean beras, dan gagal panen menjadi latar kelahiran lembaga ini.
Melalui konsep buffer stock atau stok penyangga, Bulog diberi mandat tunggal. Yakni membeli gabah petani saat harga jatuh pada musim panen raya, dan menggelontorkan beras saat harga melambung pada musim paceklik.
Doktrin tersebut bertahan selama 59 tahun dan terbukti efektif meredam gejolak. Data Bulog Pusat mencatat, selama krisis moneter 1998, Bulog menggelontorkan 4,2 juta ton beras untuk operasi pasar.
Saat El Nino 2015, Bulog menstabilkan harga dengan 1,8 juta ton beras. Pada pandemi Covid-19 2020-2021, Bulog menyalurkan 1,1 juta ton bantuan beras PPKM. “Sejarah mencatat, setiap kali Indonesia menghadapi guncangan pangan, Bulog selalu berada di garis depan. Karena pangan adalah urusan hidup mati sebuah bangsa,” tegas Julkhaidir Romadhon.
Di era reformasi, peran Bulog diperluas. Melalui PP No. 7 Tahun 2003, Bulog bertransformasi dari Lembaga Pemerintah Non Departemen menjadi Perum. Selain menyalurkan beras untuk PNS/TNI/Polri dan Raskin yang kini menjadi Bantuan Pangan, Bulog juga ditugasi mengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Terbaru, melalui Perpres No. 125 Tahun 2022, Bulog juga ditugasi mengelola Cadangan Pangan Pemerintah untuk 11 komoditas lain di luar beras.
Implementasi di Lahat: Serap Ton Gabah, Lindungi Petani
Di Kabupaten Lahat, wujud pengawalan pangan dari sisi hulu terlihat dari realisasi penyerapan gabah. Kepala Perum Bulog Cabang Lahat, Julkhaidir Romadhon memaparkan, Bulog Lahat telah menyerap gabah kering panen (GKP) dari orang petani mitra yang tersebar di tujuh kecamatan sentra produksi yang ada di Kabupaten Lahat.
Seluruh serapan dilakukan sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram untuk GKP di tingkat petani, sebagaimana diatur dalam Kepka Bapanas.
Langkah ini menjadi jaring pengaman ketika harga gabah di tingkat tengkulak anjlok di bawah HPP saat panen raya Maret–April lalu. “Kami hadir agar petani tidak rugi. Kalau petani rugi dan kapok menanam, maka stok nasional tahun depan bisa terganggu. Menjaga harga di petani hari ini sama dengan menjaga ketersediaan pangan untuk masa depan,” jelasnya lagi.
Untuk memperlancar serapan, Bulog Lahat mengoperasikan unit pengolahan di Bandar Jaya dengan kapasitas giling 20 ton per hari. Petani juga difasilitasi aplikasi SIPADAN untuk melaporkan rencana panen, sehingga Bulog bisa menjadwalkan penjemputan gabah langsung ke sawah. Sistem pembayaran dilakukan non-tunai langsung ke rekening petani untuk mencegah pemotongan oleh tengkulak.
Stok Cadangan Beras Aman 4 Sampai 5 Bulan Kedepan, Beras Merk SPHP Redam Gejolak Harga
Dari sisi hilir, Bulog Lahat memastikan stok pangan di wilayahnya dalam kondisi aman. Per 9 Mei 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikuasai Bulog Lahat sudah mencapai puluhan ribu ton banyaknya. Jumlah tersebut secara kalkulatif cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi 430.000 jiwa penduduk Kabupaten Lahat selama 4 sampai 5 bulan dengan asumsi konsumsi 10 kg per kapita per bulan.
Ketika harga beras medium di Pasar Lematang dan Pasar Tradisional Modern (PTM) Lahat sempat menyentuh Rp15.000 per kg pada Februari 2026 akibat sentimen El Nino, Bulog Lahat langsung mengaktifkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Hingga Mei 2026, total ton beras SPHP kemasan 5 kg telah digelontorkan melalui operasi pasar langsung dan 24 jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) se-Kabupaten Lahat dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp10.900 per kg.
“HET Rp10.900 itu di bawah harga keekonomian. Ada subsidi dari negara lewat Bulog. Ini bentuk kehadiran pemerintah agar daya beli masyarakat terjaga. Mengawal pangan berarti mengawal inflasi. Inflasi pangan terkendali, ekonomi daerah stabil,” ujar Julkhaidir Romadhon.
Salurkan Bantuan Ton Beras untuk 32 Ribu KPM
Mandat ketiga Bulog adalah menyalurkan bantuan pangan pemerintah. Di Lahat, Bulog ditugasi menyalurkan bantuan pangan beras alokasi 2026 untuk 32.118 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Setiap KPM menerima 10 kg per bulan selama 6 bulan.
Julkhaidir memastikan penyaluran tahap I hingga tahap III untuk periode Januari–Maret 2026 telah rampung 100 persen.
“Total beras yang sudah kami salurkan mencapai ton. Distribusi menggunakan data by name by address dari Kemenko PMK dan Bapanas, diawasi oleh Satgas Pangan Polri, TNI, dan pemerintah daerah agar tepat sasaran,” terangnya.
Ia menambahkan, kualitas beras bantuan adalah medium dengan derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen, dan butir patah maksimal 25 persen sesuai Standar Nasional Indonesia. Setiap karung juga dilengkapi dengan label “Bantuan Pangan 2026, Tidak Untuk Diperjualbelikan,”jelas dia.
Transformasi 59 Tahun: RPK, Digitalisasi, dan Komersial
Memasuki usia ke-59, Bulog terus bertransformasi. Di Lahat, 24 RPK yang sebelumnya hanya menjual beras kini dikembangkan menjadi gerai pangan lengkap. Komoditas yang dijual antara lain beras “Kita Premium”, beras SPHP, minyak goreng “Kita”, gula “Manis Kita”, tepung terigu, dan telur ayam. Seluruhnya dijual dengan harga di bawah pasar sebagai intervensi langsung menjaga daya beli.
“Kami ingin RPK menjadi one stop shopping kebutuhan pokok rakyat. Margin tipis tidak masalah, karena Bulog ini Perum dengan misi PSO atau Public Service Obligation. Keuntungan bukan tujuan utama,” katanya lagi.
Dari sisi bisnis, Bulog Lahat juga mengembangkan lini komersial untuk mendukung PSO. Saat ini Bulog Lahat aktif menjual beras premium kemasan ke retail modern, hotel, dan katering. Hasil keuntungannya digunakan untuk cross subsidy kegiatan PSO.
“Prinsipnya, yang komersial menopang yang penugasan. Ini model bisnis Bulog 59 tahun,” ujarnya.
Tantangan ke Depan: Iklim, Lahan, dan Regenerasi Petani
Meski berusia 59 tahun, tantangan Bulog ke depan tidak ringan. Bahkan, Kepala Perum Bulog Cabang Lahat, Julkhaidir Romadhon mengidentifikasi tiga tantangan utama. Pertama, perubahan iklim yang membuat pola tanam bergeser dan memicu gagal panen. Kedua, alih fungsi lahan pertanian produktif di Lahat yang mencapai 120 hektare per tahun. Ketiga, rendahnya minat generasi muda menjadi petani.
“Rata-rata usia petani kita 52 tahun. Kalau tidak ada regenerasi, 10 tahun lagi siapa yang tanam padi? Karena itu mengawal pangan juga harus mengawal petaninya. Bulog siap bekerja sama dengan Dinas Pertanian untuk program petani milenial,” katanya.
Menuju Indonesia Emas 2045
Menutup keterangannya, Kepala Perum Bulog Cabang Lahat ini mengatakan bahwa 59 tahun Bulog adalah fondasi menuju Indonesia Emas 2045. “Visi Indonesia Emas butuh SDM unggul. SDM unggul butuh gizi cukup. Gizi cukup butuh pangan tersedia. Rantai itu tidak boleh putus. Karena itu di usia ke-59, tekad Bulog hanya satu: terus mengawal pangan demi menjaga masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Ia berharap Raperda tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan, Pemberdayaan dan Perlindungan Tenaga Kerja Lokal yang sedang dibahas DPRD Lahat juga dapat memperkuat ekosistem pangan daerah. Sebab, dalam Raperda tersebut diatur komposisi 70 persen tenaga kerja lokal di perusahaan, termasuk di sektor pangan dan pergudangan.(**)





